Ada satu kebiasaan yang saya lakukan selama sembilan tahun dan hampir tidak pernah saya ceritakan ke siapa-siapa. Setiap kali latihan band, sebelum teman-teman datang, saya selalu datang satu jam lebih awal. Bukan untuk jamming atau pamer skill baru. Saya datang untuk melakukan hal yang paling membosankan dalam hidup seorang musisi: mengulang-ulang root note dalam metronome di tempo yang sama, selama satu jam penuh.
Teman-teman tidak pernah tahu saya melakukan itu. Penonton kami di gig-gig kecil di Jakarta jelas tidak akan pernah tahu. Tapi pada akhirnya, mereka akan merasakannya. Bukan dalam bentuk skill yang kelihatan, tapi dalam bentuk satu hal yang paling penting di musik: pondasi yang solid.
Low end yang kuat tidak pernah jadi highlight. Tapi kalau low end-nya berantakan, seluruh band kedengeran berantakan.
Bertahun-tahun setelah saya pindah ke dunia marketing, saya baru sadar bahwa hal yang sama berlaku di bisnis. Ada banyak hal yang kelihatan di marketing. Campaign yang lucu, copywriting yang viral, design yang memenangkan award. Semua ini adalah melody dan lead guitar di dunia marketing. Ramai, menarik perhatian, dapat applause.
Tapi yang benar-benar membuat bisnis tumbuh jarang ada di situ.
Apa yang orang tidak lihat
Di dunia growth marketing, ada banyak pekerjaan yang tidak ada highlight reel-nya. Membereskan tracking attribution yang berantakan. Membangun dashboard yang benar-benar bisa dipercaya. Menulis dokumentasi untuk tim yang belum ada tapi akan ada. Merapikan naming convention di setiap campaign agar 6 bulan kemudian tidak kebingungan sendiri.
Tidak ada yang tepuk tangan untuk ini. Tidak ada post LinkedIn yang bisa dibuat dari mengerjakan ini. Tapi tanpa ini, semua campaign di atasnya rapuh.
Saya belajar hal ini pertama kali dengan cara yang paling tidak nyaman. Di awal karir sebagai Digital Marketing Manager, saya terlalu fokus ke output yang kelihatan. Campaign launch, creative yang bagus, angka yang naik. Tiga bulan pertama rasanya semua baik-baik saja.
Sampai suatu hari saya diminta mempresentasikan performa ke stakeholder, dan saya sadar saya tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana: dari channel mana conversions ini sebenarnya datang? Tracking saya bocor. Attribution-nya kacau. Dashboard yang saya kira "sudah beres" ternyata mengambil data dari source yang berbeda-beda.
Saya kalah karena saya skip latihan dasar.
Tiga bulan berikutnya saya balik lagi ke fundamental. Membereskan tracking. Membangun dashboard ulang dari nol. Membuat naming convention yang boring tapi konsisten. Hal-hal yang seharusnya saya lakukan sebelum semuanya.
Kembali ke root note
Ini yang saya maksud dengan 9 tahun main bass ngajarin saya satu hal tentang marketing. Saat semua orang mengejar melody yang catchy, pemain bass yang baik selalu kembali ke root note. Saat semua orang mengejar campaign yang viral, marketer yang baik selalu kembali ke fondasi.
Bukan karena melody tidak penting. Tapi karena tanpa root note yang solid, melody paling indah pun akan terdengar sumbang.
Fondasi bukan kebosanan yang harus ditoleransi. Fondasi adalah hal yang membuat segalanya di atasnya jadi mungkin.
Ada satu kutipan dari pelatih saya dulu, guru les bass di Cikeas yang usianya sudah 60-an. Saat saya mengeluh bosan dengan latihan root note, dia bilang sesuatu yang masih saya ingat sampai sekarang:
"Kalau kamu tidak mau latihan hal-hal yang tidak kelihatan, ya kamu tidak akan pernah bisa bikin hal-hal yang kelihatan dengan baik."
Saya pikir dia cuma bicara tentang musik. Ternyata dia bicara tentang hampir semua hal dalam hidup.
Tentang pekerjaan yang tidak kelihatan
Hari ini, ketika saya memimpin marketing di Labamu, saya sering melihat tim saya menghadapi pilihan yang sama. Mengerjakan campaign yang kelihatan dan segera bisa di-posting, atau menghabiskan dua hari membereskan data pipeline yang tidak ada post LinkedIn-nya.
Saya selalu mendorong yang kedua. Bukan karena saya tidak suka campaign yang kelihatan. Saya sangat suka. Tapi saya sudah tahu, dari sembilan tahun main bass, bahwa pekerjaan yang tidak kelihatan adalah yang paling sering membuat perbedaan.
Jadi kalau kamu sedang di posisi di mana semua orang di sekitarmu sedang showing off dengan campaign baru sementara kamu sedang merapikan naming convention, ingat: kamu sedang mengerjakan root note. Tidak ada yang akan memuji kamu hari ini. Tapi enam bulan lagi, saat semua campaign lancar dan attribution jelas, itu semua karena kamu melakukan pekerjaan yang hari ini tidak ada yang lihat.
Low end yang solid bikin band kedengeran besar. Fondasi yang kuat bikin bisnis tumbuh.
Keduanya butuh orang yang mau mengerjakan hal-hal yang tidak akan pernah jadi highlight reel. Tapi tanpa mereka, tidak ada highlight reel yang bisa dibuat.