HomeWorkJournalAboutReach Out
About · Praya Mudya

Jalan yang tidak linear.

Sembilan tahun di dunia musik sebelum kalimat pertama soal marketing. Telat kuliah, mulai dari nol lebih dari sekali, dan belajar growth jauh sebelum tahu namanya growth. Bukan jalan yang biasa. Tapi justru itu yang membentuk cara saya bekerja.

Praya Mudya
9+
Tahun di lapangan

Growth itu metric, bukan sekadar proses.

Yang saya kejar selalu hasil yang bisa dipertanggungjawabkan ke bisnis. Bukan aktivitas yang ramai di laporan.

The Origin01 / 05

Saya mulai dari panggung, bukan kantor.

Sebelum mengenal dunia marketing, saya sembilan tahun jadi musisi. Main bass, sesekali mengajar gitar dasar, keliling dari rumah ke rumah, Bekasi sampai Cinere. Buat saya waktu itu, musik bukan cuma hobi. Itu cara bertahan hidup.

Sebagai lulusan SMA, pintu ke perusahaan yang "bagus" hampir tidak ada. Jadi musik adalah jalan keluar. Di situ saya belajar hal pertama yang sampai sekarang saya pegang: menyeimbangkan idealisme dengan uang yang dibutuhkan untuk menyambung hidup.

Saya mengajar door to door karena di situ pemasukannya paling besar, lebih masuk akal daripada menetap di satu sekolah musik. Saya juga belajar langsung dari Mas Alex Kuple, bassist yang mengiringi Nugie dan menjadi bagian dari Baim Trio. Dari dia saya belajar bahwa teknik itu hasil dari ribuan jam, bukan bakat semalam.

Tapi ada satu hal yang lama-lama tidak bisa saya abaikan. Penghasilan saya dihitung per datang, manggung atau mengajar. Tidak ada keduanya, tidak ada pemasukan. Sistem seperti itu rapuh, dan saya merasakannya langsung di momen yang paling tidak saya harapkan.

Penghasilan yang dihitung per datang itu rapuh. Saya butuh sistem yang tetap bekerja walau saya sedang tidak di panggung.

Belajar dari Mas Alex Kuple — session bassist (Nugie, Baim Trio).
What Music Taught Me

Empat hal dari musik yang terpakai sampai hari ini.

Saya tidak sadar saat itu, tapi musik mengajarkan kerangka berpikir yang ternyata persis dengan cara growth bekerja.

01
Konsistensi

Latihan setiap hari, sekecil apa pun, yang menentukan teknik. Tidak ada jalan pintas, hanya akumulasi.

Growth itu compounding. Sistem yang berjalan rutin tiap minggu mengalahkan satu campaign besar yang sekali jalan.

02
Mindset

Cara menghibur penonton pensi tanpa kehilangan identitas playing style sendiri. Realistis, tapi tetap ada idealismenya.

Tension yang sama persis: mengejar metric dan konversi tanpa mengorbankan brand dan craft.

03
Logika

Musik itu logika dari dasarnya. Interval, naik turun chord, tujuh modes, semua punya aturan dan pola.

Itulah kenapa saya melihat growth sebagai satu sistem, bukan kumpulan taktik yang terpisah.

04
Leverage

Menegosiasikan harga dan paham siapa yang sebenarnya butuh, sambil menjadi leader sekaligus manager band sendiri.

Deal-making, prioritisasi, dan membaca posisi. Skill bisnis yang ternyata sudah saya latih sejak di panggung.

The Pivot02 / 05

Pindah jalur, mulai dari nol lagi.

Kuliah saya telat delapan tahun, alasannya sederhana, biaya. Ketika akhirnya bisa, saya ambil jurusan komputer dengan fokus multimedia dan lulus sebagai Sarjana Komputer.

Sebelum dapat pekerjaan tetap, saya freelance dan banyak menawarkan jasa gratis ke teman hanya untuk membangun portofolio. Kerja 12 sampai 14 jam sehari dengan uang seminimnya. Tapi buat saya waktu itu, ilmunya yang penting, bukan bayarannya.

Saya memilih digital marketing karena alasan yang sangat sederhana: semua butuh marketing. Bahkan bisnis sendiri pun perlu marketing, dan perlu relevan dengan tren digital.

Pekerjaan tetap pertama saya di sebuah platform equity crowdfunding. Produk yang sulit dijual, karena konsepnya tidak mudah dicerna orang awam. Tapi justru di situ leverage-nya. Kalau yang susah saja bisa terjual, apalagi yang gampang.

Saya masuk sebagai Paid Ads Specialist, lalu dipercaya memimpin sebagai Digital Marketing Manager. Tim, standar, dan SOP belum ada. Semua saya bangun dari nol, dari acquisition sampai retention.

900 → 11.000Total Investor
10rb → 80rbKYC user
The Turning Point
Desember 2022

Saya kena layoff.

Awalnya saya kesal. Tapi semakin saya pikir, semakin saya tenang. Saya yang membangun banyak hal di sana dari nol. Kalau ada yang harus bingung, harusnya bukan saya.

Dari situ saya berhenti panik dan mulai mencari solusi. Kebetulan, ide untuk membangun GoesDigital sudah ada di kepala saya dua bulan sebelum layoff. Layoff itu hanya mempercepat keyakinan yang sudah tumbuh.

Ternyata membangun perusahaan tidak segampang bekerja di dalamnya. Banyak yang harus disiapkan, dari sistem acquisition sampai retention, semua dari awal. Tapi sejak titik itu, cara saya bekerja berubah. Saya tidak lagi bekerja untuk mengamankan gaji, saya bekerja untuk membuktikan bahwa growth yang benar selalu bisa dipertanggungjawabkan.

GoesDigital masih berjalan sampai hari ini. Dulu saya yang mengeksekusi langsung, sekarang lebih banyak sebagai advisor.

The Work

Hasil yang bisa diukur.

Setelah GoesDigital, saya membawa cara kerja yang sama ke dua tempat. Angka lengkapnya ada di halaman Work, ini ringkasannya.

Otten Coffee
Commerce & Digital Marketing
+40%

GMV naik 40% year-over-year, biaya turun 30%, dengan attribution yang saya perlakukan sebagai produk strategis, bukan sekadar reporting tool.

Lihat selengkapnya
Labamu
Head of Marketing
+50%

Conversion rate naik 50%, CAC turun 29%, dengan performance marketing, SEO, CRM, dan martech yang berjalan sebagai satu sistem.

Lihat selengkapnya
Now

Yang sedang saya jalani.

Head of MarketingLabamu
Co-founder & AdvisorGoesDigital
BermusikRuang berpikir yang berbeda dari marketing

Kalau ada masalah growth yang perlu dibedah sebagai sistem, bukan ditambal per channel, mari ngobrol.

Reach Out