HomeWorkJournalAboutReach Out
Journal/Growth Playbook
Growth Playbook

Framework Performance Marketing untuk Scale GMV 40% di Industri Retail

Dari marketplace hingga website, setiap channel punya peran berbeda dalam growth GMV. Artikel ini membahas framework performance marketing berbasis pengalaman praktis untuk scale GMV retail hingga 40%.

Praya MudyaPraya Mudya3 Mei 20266 min read
Framework Performance Marketing untuk Scale GMV 40% di Industri Retail

Kenapa Banyak Brand Retail Gagal Scale GMV

Kalau dilihat dari luar, growth di retail sering terlihat sederhana. Tinggal tambah budget ads, naikin traffic, lalu GMV ikut naik. Di praktiknya, tidak sesederhana itu.

Banyak brand stuck karena:

  • terlalu fokus di 1 channel saja
  • tidak memahami peran tiap channel dalam journey
  • komunikasi produk tidak sesuai dengan target audience
  • dan yang paling sering, semua dicampur jadi satu strategi tanpa struktur

Akhirnya yang terjadi bukan growth, tapi inefficiency.

Padahal kalau di-breakdown dengan benar, GMV itu bisa dikontrol dan di-scale secara lebih sistematis.

Step 1: Breakdown Channel Dulu (Jangan Digabung)

Di retail online, channel itu sudah punya behavior masing-masing.

Secara umum:

  • Marketplace (Tokopedia, Shopee, TikTok Shop)
    → high intent, price sensitive, algorithm driven
  • Owned channel (website, app)
    → lower intent, but higher control dan margin

Masalah yang sering terjadi:

  • semua dianggap sama
  • KPI dipukul rata
  • strategi komunikasi tidak dibedakan

Padahal harusnya:

Kalau ini tidak di-separate dari awal, decision di marketing jadi bias, dimana:

Role dari marketplace dan owned ecommerce amat sangat berbeda.


Marketplace memiliki kecenderungan sebagai demand capture dan main GMV generator, sedangkan website ataupun app mempunya peran untuk brand building, retention, dan margin yang jauh lebih tebal.

Step 2: Mapping Current Performance

Sebelum scaling, penting untuk tahu:

  • Channel mana yang sudah “winning”
  • Channel mana yang masih opportunity
  • Channel mana yang justru jadi leakage

Beberapa indikator sederhana:

  • GMV contribution per channel
  • ROAS / efficiency
  • conversion rate
  • repeat rate

Insight yang biasanya muncul:

  • marketplace jalan, tapi margin tipis
  • website traffic ada, tapi conversion rendah
  • ads jalan, tapi tidak semua channel scalable

Dari sini baru bisa kelihatan:

  • Mana yang perlu di pertahankan
  • Mana yang perlu di-scale
  • Mana opportunity yang bisa di improve

Step 3: Define Audience per Product Category

Ini bagian yang sering dianggap sepele, tapi impact-nya besar. Setiap kategori produk punya:

  • kebutuhan berbeda
  • behavior berbeda
  • cara ngomong yang berbeda

Contoh sederhana:

Kategori A

  • target: simplify experience
  • behavior: tidak mau ribet
  • language: simpel, result-oriented

Kategori B

  • target: enthusiast
  • behavior: suka compare, detail-oriented
  • language: teknikal, spesifik

Kalau ini tidak dibedakan:

  • naming SKU jadi nggak jelas
  • copy tidak nyambung
  • akhirnya conversion drop

Padahal sebenarnya produk tersebut memiliki potensi untuk masuk dan bersaing di pasaran.

Step 4: Align Communication dengan Audience

Setelah tahu audience, baru masuk ke komunikasi.

Yang di-adjust:

  • judul produk
  • deskripsi
  • visual
  • angle content

Contoh perubahan kecil yang impactful:

“Product X Series 3”

kita rubah menjadi

“Product X Series 3 One Touch Solution untuk Daily Use, Tanpa Setup Ribet”

Di retail, clarity selalu outperform creativity.

Step 5: Adaptasi per Platform (Bukan Copy Paste)

Setiap platform punya cara kerja sendiri. Kalau disamaratakan, hasilnya akan average. Beberapa prinsip:

  • marketplace sangat tergantung keyword + conversion signal
  • short video platform lebih ke hook dan retention
  • website lebih ke trust dan experience

Artinya:

  • tidak semua asset bisa dipakai di semua channel
  • tidak semua messaging harus sama

Brand yang grow biasanya:


Tidak hanya bikin banyak content, tapi benar-benar menyesuaikan per platform

Step 6: Structured Testing, Bukan Random

Testing itu wajib, tapi harus ada struktur. Yang sering terjadi:

  • test terlalu banyak variable
  • tidak ada hypothesis
  • hasilnya tidak bisa dipakai

Framework performance marketing yang lebih efektif:

  1. Tentukan tujuan (misal: improve CVR)
  2. Pilih 1 variable (headline / visual / CTA)
  3. Bandingkan dengan baseline
  4. scale yang win

Simple, tapi konsisten.

Step 7: Translate Insight ke Budgeting

Setelah semua mapping done, baru masuk ke budget.

Bukan:

“budget sekian, nanti kita coba”

Tapi:

“channel ini proven, scale di sini”
“channel ini potential, test dengan controlled budget”

Dengan cara ini:

  • spend jadi lebih efisien
  • scaling lebih predictable
  • dan GMV tidak tergantung feeling

Step 8: Build Feedback Loop

Framework performance marketing dalam dunia retail ini bukan one-time setup.

Harus jadi loop:

  1. collect data
  2. generate insight
  3. adjust strategy
  4. test lagi

Semakin sering loop ini jalan:

Semakin cepat sebuah brand punya growth yang maksimal

Kesimpulan

Scale GMV di retail bukan soal siapa yang punya budget paling besar, tapi siapa yang paling:

  • jelas channel strateginya
  • ngerti audience-nya
  • konsisten testing dan iterasi

Framework performance marketing ini bisa dipakai untuk:

  • audit current performance
  • identify growth opportunity
  • dan build strategi yang lebih scalable
Performance marketing bukan sekedar bikin ads, tapi sebuah framework yang mengutamakan analisa audience dan konten yang dibuktikan dengan ads

Closing

Kalau kamu lagi di fase:

  • GMV stuck
  • channel sudah banyak tapi tidak optimal
  • atau mulai scale tapi belum structured

Praya terbuka untuk diskusi.

Biasanya dari 1–2 jam session aja sudah bisa kelihatan:

  • bottleneck-nya di mana
  • dan quick win apa yang bisa langsung dijalankan

Reach out atau connect dengan saya DISINI

← Back to Journal