HomeWorkJournalAboutReach Out
Impact Case
Current · Dual SaaS
Labamu logo

Labamu

Head of Marketing

Memimpin marketing function di platform yang melayani dua produk dan dua pola akuisisi yang berbeda Labamu sebagai POS untuk 84.000+ UMKM, dan Labamu Manufactur sebagai ERP untuk pelaku manufaktur dalam satu sistem go‑to‑market yang terintegrasi.

REPORT TO
CEO/Founder
FUNCTION OWNER
5 Marketing pillars
OPERATING MODEL
Full-funnel integrated
PRODUCT LINES
POS + ERP dual SaaS
01 · Company

Tentang Labamu

Satu platform untuk dua kebutuhan bisnis yang berbeda. POS untuk retail dan ERP untuk operasional yang lebih kompleks. Satu brand, dua pendekatan marketing.

Labamu adalah platform business management yang dirancang untuk pengusaha di Indonesia. Berdiri di bawah PT. Labamu Sejahtera Indonesia, platform ini menyediakan satu solusi terintegrasi untuk kasir digital, pembukuan, manajemen stok bahan baku, invoice, dan penerimaan pembayaran digital.

Selain produk POS untuk F&B dan ritel, Labamu juga mengembangkan Labamu Manufactur, sebuah ERP yang ditargetkan untuk pelaku manufaktur, dari production planning sampai inventory management. Dua produk ini melayani audience yang sangat berbeda dengan sales motion yang berbeda.

Dari sisi marketing, kondisi ini menciptakan tantangan unik dimana POS bergerak di direct conversion dengan funnel yang cukup pendek dan keputusan beli cepat dibandingkan sisi ERP yang bergerak di lead generation, dengan funnel yang lebih panjang, sales cycle yang lebih kompleks, dan deal size yang signifikan. Dua-duanya butuh sistem measurement, attribution, dan operating model yang berbeda, tapi semuanya harus berjalan dari satu marketing function yang sama.

84K+
Entrepreneurs
1.5M+
App Install
3 Countries
Accross Asia
2022
Platform Launched
02 · The Role

Scope dan tanggung jawab.

Memegang ownership penuh atas marketing function, dari strategy sampai eksekusi, dengan reporting line langsung ke founder.

Strategic Ownership

  • ReportsCEO & Founder
  • MandateEnd-to-end marketing function
  • Operating ModelHybrid roles, integrated execution
  • Cross-functionProduct, Sales, Brand, Tech, Legal

Tim dirancang seperti sepak bola modern dimana striker harus bisa bertahan, fullback harus bisa overlap. Setiap orang punya peran utama, tapi sistem dibangun supaya tidak ada batas yang kaku antar-fungsi. Yang penting bukan posisi di papan, tapi siapa yang berada di tempat yang tepat saat dibutuhkan.

Functional Coverage

  • Performance & CRMPaid channel & lifecycle automation
  • SEO & GEOOrganic traffic generator Search Engine & AI
  • Social MediaContent generator & optimization
  • MartechTracking event optimization & data analytics
04 · Impact

Hasil yang terukur

Tiga metric utama yang merefleksikan efektivitas system yang dibangun. Bukan vanity metrics. Setiap angka berdampak langsung ke business metrics.

+50%
Conversion Rate

Peningkatan rasio konversi dari traffic ke registered user. Hasil dari optimisasi funnel yang terhubung antara performance marketing dan onboarding flow.

−30%
CIR · Quarter over Quarter

Cost-to-Income Ratio turun secara konsisten quarter-over-quarter. Indikator bahwa setiap rupiah marketing menghasilkan return yang makin efisien.

-29%
Customer Acquisition Cost

CAC turun seiring dengan pendalaman channel mix dan automation di lifecycle. Bukan dari memotong budget, tapi dari memperbaiki sistem.

Bagaimana angka ini terbentuk.

Tiga metric ini saling terkait. Conversion rate naik karena traffic yang masuk lebih qualified, hasil dari optimisasi targeting di paid acquisition. CAC turun karena conversion rate yang lebih tinggi membuat cost per converted user otomatis lebih rendah, bahkan di budget yang sama.

CIR yang turun secara QoQ menunjukkan bahwa pattern ini sustainable, bukan one-time spike. Setiap quarter, marketing function menghasilkan output yang lebih efisien dari quarter sebelumnya.

Yang tidak terlihat di angka.

Di balik metric ini ada perubahan operasional dimana alignment lintas tim yang lebih clear, attribution yang lebih akurat, dan decision-making yang berbasis data. Tim sekarang bisa melihat kontribusi setiap channel ke business outcome, bukan sekadar channel-level metric.

Yang paling fundamental adalah pergeseran mindset dari menjalankan campaign ke menjalankan sistem. Campaign datang dan pergi. Sistem yang baik bertahan dan compound seiring waktu.

05 · Reflections

Apa yang peran ini ajarkan ke saya.

Sebelum di Labamu, saya sudah cukup sering memimpin tim marketing. Tapi peran ini adalah pertama kalinya saya benar-benar memegang ownership penuh atas seluruh fungsi marketing, dengan reporting line langsung ke founder dan tergabung dalam tim management.

Yang berubah adalah cara saya melihat masalah. Ketika sebuah campaign underperform, pertanyaan pertama bukan lagi "bagaimana cara fix campaign ini," tapi "bagian mana dari sistem yang sebenarnya broken." Campaign hanya gejala. Sistem adalah penyebab.

"When the system works, growth becomes predictable."

Pelajaran terbesarnya adalah soal kesabaran dalam membangun fondasi. Marketing system yang baik tidak terlihat hasilnya di minggu pertama. Bahkan kadang tidak di bulan pertama. Tapi ketika fondasinya benar, hasilnya compound.

Tiga prinsip yang sekarang saya pegang teguh, "integrate everything, measure what matters, dan build for sustainability." Channel boleh berubah, tools boleh berganti, tapi prinsip-prinsip ini akan terus relevan.

Di luar kerja teknis marketing, peran ini adalah pertama kalinya saya berada di level management secara utuh. Tanggung jawab tidak berhenti di output marketing, tapi mencakup keseluruhan ekonomi fungsi itu sendiri, dari setiap rupiah yang diinvestasikan ke channel sampai keputusan-keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan tim. Itu memaksa saya melihat marketing bukan hanya sebagai engine pertumbuhan, tapi sebagai unit bisnis yang punya P&L-nya sendiri dan harus dijaga kesehatannya.

Peran ini menunjukkan bahwa marketing yang berfungsi dengan baik selalu bergantung pada kolaborasi lintas tim. Alignment dengan Product team menentukan retention. Alignment dengan Sales menentukan conversion. Alignment dengan Brand menentukan persepsi. Alignment dengan Tech menentukan attribution. Marketing yang berdiri sendirian, secanggih apapun, akan selalu mencapai plafon yang terlalu rendah.

Ditulis oleh Praya Mudya
Next case →

Otten Coffee · Commerce & Digital Marketing Manager